Jumat, 29 Juli 2011

Nishfu Sya'ban.. #2

Aku hanya terpaku, bergeming dalam diamku, menatap nanar sepasang pintu di depanku. Tak tahu harus bagaimana mendefinisikan galau hatiku saat ini.

Aku tak merasa tegang, tapi tak tahu, aku masih tercekat dengan keadaan ini. Aku hanya berusaha mengendalikan lisanku untuk tetap menyebut namaNya dan nama utusanNya di tengah keadaan yang sulit lagi ku kendalikan ini. Emosiku sudah tak bisa lagi ditafsiri dengan hanya melihatku terduduk di kursi kursi tunggu yang sangat dingin ku rasa saat ini.

Aku masih tetap menunggu datangnya saat sepasang pintu kaca buram depanku ini terbuka dengan kabar kabarnya yang menyenangkan. Saat yang hanya Allah tahu bagaimana kehendakNya. Saat yang semakin membuatku kesulitan sendiri mengerti apa yang harusnya ku rasa saat ini.

“Dek, anter kakak pulang aja yuk!”

Terdengar hembusan nafas berat dari lawan bicaraku ini. “Tadi ia hanya mengirim sms, ajak kakak ke rumah sakit ini. Saat itu juga.”

Namun, tak ada kata yang harus ku ucapkan. Kami hanya berkecamuk dalam diam hingga beberapa saat.

Tak ada yang bisa ku lakukan lagi, kecuali hanya menyerahkan semuanya pada Allah. Ku sebut namaNya pelan tanpa henti. Aku sama sekali tak punya daya, Allah.
“Tapi aku tak menghiraukan sms itu langsung. Aku hanya tak mau kegiatanku tadi harus terputus. Maaf kak, hingga teman Angga nelpon aku. Angga sedang kritis di ICU.”

Aku menyimaknya dalam diam. Terbelalak sejenak. Dan kembali ku kembalikan diriku dalam dzikirNya. Berikan kami yang terbaik bagi kami, Allah.



Aku hanya tak ingin menjadi teman yang jahat bagi siapapun, termasuk Angga. Allah menjelmakan titisan Yusuf dalam diri Angga. Tapi aku tak mampu menjadi siapapun untuk orang yang sama sekali tak ku kenal kecuali hanya dalam diskusi diskusi kampus. Allah meletakkan kemampuan intelektual yang mencengangkan bagiku dalam dirinya. Tapi aku tak mau jika makhluk Allah manapun menjadikanku penghambat dalam
penghambaan padaNya. Termasuk Angga.

Aku tak menginginkan apapun, setidaknya untuk saat ini, segala hal yang berhubungan dengan kebanyakan orang menyebutnya cinta. Aku hanya melihat cinta nyata dariNya. Aku tak bisa menerima jika siapapun menyebut cintaNya untuk makhlukNya.
Dan aku tak mau jika tentang cinta ini, membuat kami tak mampu berkomunikasi lagi dengan baik. Menjadikan kami hamba yang durhaka. Dan menyebabkanku tak bisa menghargai makhluk Allah yang sangat ku kagumi ini.

Kacamataku buram.

“Ehm, Anda saudari Nana?”

“Iya dok,” ku dongakkan kepalaku, mengusir tunduk yang telah lama bersamaku.

“Pasien ingin bertemu dengan Anda, silakan”

Aku hanya terdiam. Tak segera beranjak tapi aku juga tak yakin dalam dudukku.

“Kak,” seru adikku.

Ku langkahkan kakiku menemuinya yang kini sedang tergeletak di atas dipan serba putih.

“Assalamu’alaikum,” salamku seketika saat Angga menoleh ke arahku.

“Alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuh,” jawabnya dengan senyum.

Tak ada yang aneh dengan suaranya. Tak ada yang berbeda dengan suara suara lantangnya di tengah diskusi. Ringan penuh wibawa, tak ada serak ataupun sengau di sana.

Kami hilang dalam diam. Tak ada percakapan, tak ada suara apapun kecuali wibawa AC yang arogan. Perawat di sampingku memberiku isyarat agar aku segera keluar. Aku mengangguk. Tapi Angga malah berusaha menggerakkan badannya. Berusaha mendudukkan tubuhnya yang mungkin telah lama terbaring di sana. Membuat perawat tadi agak panik dan membuatku mengurungkan niatku untuk segera beranjak dari situ.

Angga memintaku membuka lemari besar yang terletak di pojok ruang itu. Ku turuti saja apa maunya, tak tega dengan apa yang ku lihat pada dirinya saat ini. Tak ku ingat sama sekali segala perbuatannya kepadaku yang sangat sering menjengkelkan emosiku.

Kemudian ia memberi isyarat untuk mengambil kotak yang terletak di laci paling atas di lemari itu. Ku bawa kotak itu mendekat ke arah ranjang yang sedang dikuasainya saat ini.

Tapi belum sempat aku menanyakan apa isi kotak itu atau apapun tentang kotak yang sedang ku pegang ini. Kepalanya telah menunduk dalam, dan perawat tadi menyuruhku untuk meninggalkan ruangan itu. Perawat yang lain sibuk memanggil dokter yang tadi menangani Angga. Jiwa ruangan ini seakan sedang bertaruh nafas atau tanah. Ku lihat semuanya dalam panik yang kembali membuatku semakin tak bisa berbicara. Aku hanya diam.

Keluar dari ruangan itu, adikku menuntunku duduk di deretan kursi abu abu yang tadi ku duduki bersamanya.

Ku tatap nanar kembali sepasang pintu yang telah membuat ceritaku dengan Angga bertambah. Tak sekedar sms, debat, dan diskusi. Kami telah bercengkerama dalam diam dan senyap yang berakhir kepanikan orang orang di sekitar kami.

Aku terus melalui hari ini hingga akhir dalam tatap nanar pada sepasang pintu buram di depanku. Dalam diamku dan dalam emosiku yang tak bisa ku pahami.

oOo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar