Kau tak akan pernah menemukan apa yang selalu kau bahas dalam surat-surat pendekmu. Tak akan pernah pula menemukan ujung di tiap bacaan-bacaan itu usai. Tak akan pernah melihatnya cair seiring air yang lahir dari gumpalan es. Karena kau tak pernah memikirkan itu, kau hanya ingat satu hal. Kau hanya ingat satu sosok dimana pun dan dalam surat apapun.
Kau tak pernah berharap bacaan itu berakhir meski dalam not-not yang sangat sengau, bahkan kucing gendut yang selalu bersamamu segera beringsut menjauh darimu. Kau hanya mengingatnya selalu setiap kau pelan-pelan mengeja huruf demi huruf lembaran itu.
Kau bahkan tak pernah tahu apa yang kau inginkan dalam surat-surat pendek itu. Padahal di sana, di tulisan yang telah lengkap itu, terhampar begitu banyak makna yang kau butuhkan dalam setiap langkahmu. Surat-surat pendek itu, bagimu hanya mampu memberi warna yang tak butuh kata untuk menjelaskan pesonaya, ia hanya tulisan-tulisan yang selalu membuat hatimu riang selalu. Tapi kau tak pernah tahu ada semua itu disana. Dan dia bukan seperti kau, dia hanya menerjemahkan ketenangannya yang tiba-tiba harus terusik oleh surat-surat itu, sedang kau ada di sana, di surat-surat itu.
Apalagi cair, saat bekunya pun kau nyaris tak pernah menyadari. Satu dua waktu, kau berhasil menangkapnya. Itu pun karena ada dia di sana, dengan pelan membacakannyya untukmu. Kau terkadang terlalu ke-aku-an, hingga dia bagimu tak perlu ada spasi jika bersamamu.
Karena kau hanya ingin bersamanya, dalam keadaan bagaimanapun. Meski menurut orang lain, hal ini bukan lagi masalah logis. Dan kau tak bisa dipaksa realistis atau kau masih tak mau membiarkan dirimu melepaskan jiwamu yang setahun terakhir tak lagi seperti dulu. Kau hanya ingin mebaca surat bersamanya, meski perih atau sedih. Tak peduli sedu sedan, tak perlu riang tawa. Bagimu mengenang kebersamaan dengannya mampu menyisihkan apapun hal di luar kebersamaan itu.
Tapi lagi lagi dan berkali kali,
ia perlahan menjauh, menerjemahkanmu bagai boncel yang ada di ukiran patung yang siap dipasang di dinding candi. Ia perlahan beringsut melepasmu, namun kau masih saja belum menyadarinya.
karena kau hanya ingin bersamanya, meski dalam hal yang sangat dibencinya.
Selasa, 21 Agustus 2012
Senin, 20 Agustus 2012
kelabu
masih jelas
bak membuka album hitam putih
namun yang ku temu
hanya kelabu,
yang mempertanyakan ketegaran sang kalbu
aku hanya biisu
menyesali dalam ragu
bak membuka album hitam putih
namun yang ku temu
hanya kelabu,
yang mempertanyakan ketegaran sang kalbu
aku hanya biisu
menyesali dalam ragu
Minggu, 18 Maret 2012
Menunggu .. ep. 2
Umi berapa tahun nanti di sana?
ku ulang lagi tanyaku, Umi hanya tersenyum sangat sendu padaku. Ia tak menjawabnya dengan kata. Yang ku tahu hanya aku akan berangkat sekolah tanpa berteriak-teriak lagi setelah hari ini. Tanpa mengucap salam sembari mengawali kayuh sepeda mini ku mengukir jalanan menuju sekolahku.
Aku telah memikirkan tentang pertanyaan ini jauh sebelum hari ini mengukir kisahnya. Sejak Umi mengawali langkahnya untuk hari ini, beberapa bulan lalu. Membicarakannya dengan bapak yang hanya memenuhi seperempat kebutuhan kami setiap hari.
Malam itu, di ruang sholat keluarga kami. Umi yang masih dalam balutan mukenanya, menghadap takdhim ke arah bapak. Aku menjumpainya sejenak setelah aku turun dari ruangan itu. Dan entah, aku benar benar ingin menyimak percakapan yang belum saja dimulai itu. Aku bergegas keluar rumah, mencari posisi paling dekat dengan kamar Umi dan bapakku, yang setiap jam jam tertentu lima kali dalam sehari selalu menjadi tempat paling damai bagiku. Berjamaah bersama dan bapak akan melanjutkan menyimak bacaan mengajiku. Mengatur langkah agar langkah kakiku tak mengusik ketenangan daun daun kering yang berserakan di samping rumahku. Menyenderkan tubuhku perlahan pada dinding kayu rumah warisan nenekku.
Aku hanya menyimaknya, ya aku menyimak seluruh pebincangan Umi dan bapakku malam itu.
Sore yang sendu sesendu senyum Umi padaku
ku ulang lagi tanyaku, Umi hanya tersenyum sangat sendu padaku. Ia tak menjawabnya dengan kata. Yang ku tahu hanya aku akan berangkat sekolah tanpa berteriak-teriak lagi setelah hari ini. Tanpa mengucap salam sembari mengawali kayuh sepeda mini ku mengukir jalanan menuju sekolahku.
Aku telah memikirkan tentang pertanyaan ini jauh sebelum hari ini mengukir kisahnya. Sejak Umi mengawali langkahnya untuk hari ini, beberapa bulan lalu. Membicarakannya dengan bapak yang hanya memenuhi seperempat kebutuhan kami setiap hari.
Malam itu, di ruang sholat keluarga kami. Umi yang masih dalam balutan mukenanya, menghadap takdhim ke arah bapak. Aku menjumpainya sejenak setelah aku turun dari ruangan itu. Dan entah, aku benar benar ingin menyimak percakapan yang belum saja dimulai itu. Aku bergegas keluar rumah, mencari posisi paling dekat dengan kamar Umi dan bapakku, yang setiap jam jam tertentu lima kali dalam sehari selalu menjadi tempat paling damai bagiku. Berjamaah bersama dan bapak akan melanjutkan menyimak bacaan mengajiku. Mengatur langkah agar langkah kakiku tak mengusik ketenangan daun daun kering yang berserakan di samping rumahku. Menyenderkan tubuhku perlahan pada dinding kayu rumah warisan nenekku.
Aku hanya menyimaknya, ya aku menyimak seluruh pebincangan Umi dan bapakku malam itu.
Sore yang sendu sesendu senyum Umi padaku
Minggu, 19 Februari 2012
Menunggu ..
Kau tahu kawan, tak ada kegiatan yang lebih membosankan dan menyebalkan selain menunggu. Di sana aku harus beradu dengan sekeping receh kemungkinan. Ya atau tidak terjadi sama sekali. Ibarat koin receh, dua sisinya begitu mengguncang batin dan jiwa siapa saja ketika seayun saja sebuah tangan melemparkannya membuat jejak tegak yang kasat mata. Dan ketika terjatuh kembali ke tanah dalam daya tarik gravitasinya, di sanalah semua penantian kita berakhir, meski terkadang sebuah impian harus dipaksa lenyap.
Tak ada masalah dalam kegiatan yang telah biasa ku jalani beberapa bulan ini sebenarnya. Tak ada jadwal yang berubah dari biasanya. Pagi dengan rutinitasku di kampus dan beberapa bangku sekolah, siang dengan waktu waktu lengang yang nyaris tak pernah terasa senggang, sore dengan kebersamaan berbagi cerita dan pengalaman, dan malam hilang dalam pejam yang padam. Hanya saja sejak saat itu, saat ibu mulai melepaskan salam takdhim telapak tanganku satu tahun lalu. Aku mulai dipaksa perlahan bagaimana mempermainkan sebuah rasa. Memainkan hati sendiri, merasakan pedihnya dan menikmati sukanya.
....
Umi berapa tahun nanti di sana?
Tak ada masalah dalam kegiatan yang telah biasa ku jalani beberapa bulan ini sebenarnya. Tak ada jadwal yang berubah dari biasanya. Pagi dengan rutinitasku di kampus dan beberapa bangku sekolah, siang dengan waktu waktu lengang yang nyaris tak pernah terasa senggang, sore dengan kebersamaan berbagi cerita dan pengalaman, dan malam hilang dalam pejam yang padam. Hanya saja sejak saat itu, saat ibu mulai melepaskan salam takdhim telapak tanganku satu tahun lalu. Aku mulai dipaksa perlahan bagaimana mempermainkan sebuah rasa. Memainkan hati sendiri, merasakan pedihnya dan menikmati sukanya.
....
Umi berapa tahun nanti di sana?
Jumat, 17 Februari 2012
Ustadz
Serumah dengan seorang ustadz ternyata mulai membawa perubahan dalam hidupku. Sama denganku, ia juga selalu mempunyai waktu kosong di tiap pagi, setelah sedikit aktivitas-aktivitas aneh untuk mengawali pagi. Kami hidup di kamar masing-masing dalam rumah berisi lima kamar ini. Jadilah aktivitas pagi kecil kami adalah membersihkan seluruh sudut rumah besar ini. Ustadz itu juga yang mempelopori kegiatan aneh ini. Patut ku sematkan perisai di songkok hitamnya yang bersahaja itu, karena telah berhasil membangunkan aku dan tiga temanku yang lain dengan aktivitas aneh aneh ini. Selalu tertawa yang spontan merespon putaran memori lalu yang terkadang tiba tiba datang di sela lamunanku. Bagaimana tidak? Hidupku hanya seperti ini, kawan. tak lebih dari transaksi udara dengan siapapun dan apapun di sekitarku sebagai nasabahnya. Melewati waktu kosong, mengisinya, dan menemukan waktu kosong kembali. Lagi lagi hanya kosong yang bisa ku jamah dan yang bisa ku temukan. Dan yang lebih membuatku kosong adalah ketika aku mengisi kekosongan kekosongan itu dan aku masih saja merasa kosong.
Tapi tidak, sejak kedatangan ustadz muda itu di tengah kami.
------
"Lang, musholla umum di sini paling deket sebelah mana?"
Aku yang sedang serius dengan kesibukanku dalam sebuah kekosongan sedikit tersentak dengan pertanyaan orang baru ini. Terpaksa harus ku hentikan sejenak tanganku dari rangkaian maket bangunan rancanganku untuk menyambut pertanyaannya. Sungguh, dalam hati, aku pun tak tahu harus menjawab bagaimana. Bukan karena aku tak tahu dimana letak bangunan yang biasa disebut musholla yang ada di komplek sini, tapi mendengar kata umum, benar benar membuatku kesulitan menjawabnya.
Tapi tidak, sejak kedatangan ustadz muda itu di tengah kami.
------
"Lang, musholla umum di sini paling deket sebelah mana?"
Aku yang sedang serius dengan kesibukanku dalam sebuah kekosongan sedikit tersentak dengan pertanyaan orang baru ini. Terpaksa harus ku hentikan sejenak tanganku dari rangkaian maket bangunan rancanganku untuk menyambut pertanyaannya. Sungguh, dalam hati, aku pun tak tahu harus menjawab bagaimana. Bukan karena aku tak tahu dimana letak bangunan yang biasa disebut musholla yang ada di komplek sini, tapi mendengar kata umum, benar benar membuatku kesulitan menjawabnya.
Langganan:
Postingan (Atom)